Support

Kamis, 13 Maret 2014

Filled Under: , , , , ,

Kota di atas papan Suku Asmat

Wisata Papua .com  

Kota di atas papan Suku Asmat



Menaiki pesawat Twin Otter milik maskapai Merpati Nusantara, kami meninggalkan Merauke menuju Bandara Ewer di Kabupaten Asmat. Panorama kawasan tenggara Papua sungguh mengagumkan dilihat dari ketinggian. Aneka sungai meliuk-liuk dan membelah permadani hijau. Salah satunya bernama Betsj, sungai yang menyimpan misteri yang hingga kini belum terkuak. Konon, di sinilah Michael Rockefeller, putra bungsu Nelson Rockefeller yang kelak menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat, menghilang dalam ekspedisinya mempelajari alam Papua dan kebudayaan Asmat. Tragedi itu begitu heboh di Negeri Paman Sam hingga melahirkan sebuah film dokumenter bertajuk The Search for Michael Rockefeller.
Ewer merupakan bandara peninggalan Jepang dari masa Perang Dunia II. Landasan dan lahan parkirnya hanya sanggup menampung satu pesawat, karena itulah tiap pesawat harus mendarat bergantian. Dari bandara, kami membelah sungai di tengah hutan bakau dan tepian Teluk Flamingo dengan speedboat selama 25 menit menuju Agats, Ibukota Kabupaten Asmat.
"Kota di atas papan", begitu Agats dijuluki. Secara harfiah, kota ini memang berdiri di atas papan yang bertaburan di rawa. Semua aktivitas dilakukan di atas papan, termasuk bermain sepakbola. Dan berhubung terhampar di atas papan, Agats hanya memperbolehkan kendaraan ringan berbentuk motor listrik dan sepeda. Jalan raya satu-satunya di sini adalah jembatan beton sepanjang 100 meter di tengah kota.
Kantor-kantor pemerintahan mengadopsi arsitektur lokal: Dihiasi ukiran dan disangga kayu. Corak yang lebih autentik bisa disaksikan di Kampung Suru dalam bentuk Jews atau rumah bujang, rumah berbentuk panjang tempat orang-orang Asmat melakukan berbagai kegiatan komunal.
Ukiran kayu adalah produk Asmat yang sangat kondang di tingkat internasional. Pola-polanya yang rumit berbicara tentang cara hidup dan keyakinan warga. Keunikan seni inilah yang juga dulu memikat Michael Rockefeller ke Papua. Menurut Roland Yembesy, pejabat di Kantor Bupati Asmat, warga suku memandang kegiatan mengukir sebagai bagian penting dalam kehidupan spiritual dan penghormatan terhadap nenek moyang. Kunjungi Museum Asmat jika ingin mempelajari kreativitas unik mereka.

smbr:jalanjalan.co.id

Salam 
Wisata Papua

24 komentar: