Kamis, 13 Maret 2014

, , ,

Kemeriahan Pesta Budaya Asmat Papua

Wisata Papua .com  

 

Kemeriahan Pesta Budaya Asmat Papua






Tak kurang dari 400-an peserta Pesta Budaya Asmat, Kamis (10/10/2013) menampilkan ukiran, perahu, anyaman dan tarian.
ASMAT - Lantai panggung di Lapangan Yos Sudarso, Agats Kabupaten Asmat, Papua, bergetar seketika saat tak kurang dari 140 penari dari perwakilan berbagai kampung di 7 distrik bergoyang seraya menabuh tifa dan meneriakkan seruan semangat. Kamis (10/1/2013) malam, Pesta Budaya Asmat dibuka di Agats, Kabupaten Asmat, Papua.
Tak kurang dari 400-an peserta pesta yang menampilkan ukiran, perahu, anyaman, dan tarian beserta tetabuhan khas Papua, tifa, menjadi daya tarik bagi pengunjung yang nampak terus mengalir di atas jalan panggung Agats yang sebagian sudah dibeton, dan sebagian lain masih beralas kayu.
Hampir 1.000 pengunjung memadati lapangan panggung yang luasnya sekitar 8.000 meter persegi. Agats bertanah rawa, sehingga semua jalan dan rumah, termasuk lapangan pun dibina dengan sistem panggung.
Diperkirakan sebanyak 200 ukiran, 62 anyaman, dan 18 perahu telah lolos seleksi. Dari 19 distrik yang ada di Asmat, 7  distrik saat ini sudah terdaftar dengan masing-masing  distrik diwakili 20 penari. Jumat (11/10/2013), tiap distrik menampilkan tariannya masing-masing seraya menemani para pemahat patung menunjukkan keahliannya memahat.
Sejak Jumat pagi, warga Asmat berkumpul di dermaga Agats di tepi Sungai Aswetj. Sebanyak 17 perahu mempertontonkan keseimbangan dan kecepatannya di depan warga Asmat dan tak kurang dari 5 negara tamu yang hadir. Ritual yang dipimpin kepala adat pun menarik perhatian warga, media dan tamu asing.

DOK INDONESIA. TRAVEL Patung dan ukiran Asmat di Pesta Budaya Asmat
Setelah itu, acara dialihkan kembali ke Lapangan Yos Sudarso dengan menghadirkan 200 pengukir yang unjuk kabisa. Menurut Ketua Panitia Pesta Budaya Asmat, Erick Sarkol, semakin tahun semakin bertambah keikutsertaan warga, dan sekarang sudah tahun ke-29.
"Tahun 1981 hanya ada 36 pemahat saja yang ikut, dan sekarang sudah berkembang menjadi 200 orang," kata Erick.
Dalam lomba patung dan anyam, ada beberapa kategori yang diperlombakan. Patung mitos yang paling menarik karena memiliki filosofi mendalam dari tiap suku. Ada pula kategori hiasan dan diambi dari tema kehidupan Suku Asmat. Pemenang pertama akan dihargai dengan hadiah uang dan disimpan sebagai koleksi di Museum Budaya Asmat. Sisanya akan dilelang dengan harga bervariasi.

Keindahan ukiran Asmat tak dapat dipungkiri menjadi yang terbaik saat ini di dunia. Uniknya, semua pemahat tak pernah membuat desain terlebih dahulu. Semua direncanakan dalam ingatan mereka. Selain itu originalitas tiap patung sangat tinggi. Tak ada satu patung Asmat yang dibuat sama. Tiap patung sifatnya unik dan hanya satu, tak pernah dibuat dua buah yang sama sejenis.

Hari itu banyak sekali karya dipamerkan di Lapangan Yos Sudarso, mulai dari patung, perahu, tombak, perisai, tifa hingga anyaman.
Nampak beberapa tetua mengenakan owese, tas berhias dengan bulu kakatua sebagai lambang kepemimpinan. Beberapa di antara warga, mengenakan mahkota dari kulit kuskus dan burung yakub.
Kayu besi, kayu merbau, kayu pit juga kayu perahu dipakai sebagai bahan dasar pengukiran. Tiga warna dasar yang digunakan dalam pewarnaan patung ialah putih, merah, dan hitam, yang semuanya didapat dari bahan alami. "Kayu biasanya diukir dalam keadaan basah. Pengukir semua pria, dari dulu dan akan selalu pria," ujar Erick.

Saat bekerja, para pengukir biasanya tak pernah berbicara sedikit pun, kecuali bernyanyi ritual, karena saat proses mengukir, mereka yakin tengah berkomunikasi dengan para leluhur.
Dengan mengusung tema "Mendayung Perahu Penuh Keseimbangan Demi Mempertahankan Jati Diri Asmat dan Melestarikan Nilai-nilai Luhur Dalam Kesinambungan Pembangunan Budaya Nusantara" pesta ini dihadiri oleh Kepala Desk Wisata Eropa-Amerika Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Maria Mayabubun.
DOK INDONESIA. TRAVEL Pesta Budaya Asmat 2013.
Bupati Asmat, Yuvensius A Biakai mengingatkan pada semua warga bahwa tidak ada yang perlu dirasakan sebagai kelemahan dalam hidup sebagai Asmat walau terpencil. Justru, dengan pesta ini warga Asmat bisa semakin mendunia dan harus merasa bangga dan bermartabat.
"Hidup harus seimbang, karena tak hanya manusia yang mendiami bumi. Ada roh, binatang, tumbuhan, dan alam sekitar yang saling ketergantungan," kata Yuvensius yang sangat dihormati warga Asmat.

Suatu pengalaman yang akan abadi terukirkan dalam kenangan saat Anda bisa berada di sini, bercengkerama dengan para pemahat yang ramah, mengenakan noken berhias dan mahkota kebanggaan.
travel.kompas.com
Salam 

Wisata Papua
, , , , ,

Kota di atas papan Suku Asmat

Wisata Papua .com  

Kota di atas papan Suku Asmat



Menaiki pesawat Twin Otter milik maskapai Merpati Nusantara, kami meninggalkan Merauke menuju Bandara Ewer di Kabupaten Asmat. Panorama kawasan tenggara Papua sungguh mengagumkan dilihat dari ketinggian. Aneka sungai meliuk-liuk dan membelah permadani hijau. Salah satunya bernama Betsj, sungai yang menyimpan misteri yang hingga kini belum terkuak. Konon, di sinilah Michael Rockefeller, putra bungsu Nelson Rockefeller yang kelak menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat, menghilang dalam ekspedisinya mempelajari alam Papua dan kebudayaan Asmat. Tragedi itu begitu heboh di Negeri Paman Sam hingga melahirkan sebuah film dokumenter bertajuk The Search for Michael Rockefeller.
Ewer merupakan bandara peninggalan Jepang dari masa Perang Dunia II. Landasan dan lahan parkirnya hanya sanggup menampung satu pesawat, karena itulah tiap pesawat harus mendarat bergantian. Dari bandara, kami membelah sungai di tengah hutan bakau dan tepian Teluk Flamingo dengan speedboat selama 25 menit menuju Agats, Ibukota Kabupaten Asmat.
"Kota di atas papan", begitu Agats dijuluki. Secara harfiah, kota ini memang berdiri di atas papan yang bertaburan di rawa. Semua aktivitas dilakukan di atas papan, termasuk bermain sepakbola. Dan berhubung terhampar di atas papan, Agats hanya memperbolehkan kendaraan ringan berbentuk motor listrik dan sepeda. Jalan raya satu-satunya di sini adalah jembatan beton sepanjang 100 meter di tengah kota.
Kantor-kantor pemerintahan mengadopsi arsitektur lokal: Dihiasi ukiran dan disangga kayu. Corak yang lebih autentik bisa disaksikan di Kampung Suru dalam bentuk Jews atau rumah bujang, rumah berbentuk panjang tempat orang-orang Asmat melakukan berbagai kegiatan komunal.
Ukiran kayu adalah produk Asmat yang sangat kondang di tingkat internasional. Pola-polanya yang rumit berbicara tentang cara hidup dan keyakinan warga. Keunikan seni inilah yang juga dulu memikat Michael Rockefeller ke Papua. Menurut Roland Yembesy, pejabat di Kantor Bupati Asmat, warga suku memandang kegiatan mengukir sebagai bagian penting dalam kehidupan spiritual dan penghormatan terhadap nenek moyang. Kunjungi Museum Asmat jika ingin mempelajari kreativitas unik mereka.

smbr:jalanjalan.co.id

Salam 
Wisata Papua

Rabu, 12 Maret 2014

, , , , , , , , ,

Wisata Taman Wisata Alam Nabire Prov Papua

Wisata Papua .com  


Wisata Taman Wisata Alam Nabire




Letak Kawasan

Taman Wisata Alam Nabire ditunjuk sebagai Taman Wisata Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 21/Kpts/Um/1/1980 Tanggal 12 Januari 1980 dengan luas 100 Ha. Secara adminitrastif, Taman Wisata Alam Nabire terletak pada Distrik Nabire Kabupaten Nabire Provinsi Papua. Batas wilayah Taman Wisata Alam Nabire adalah Sebelah Utara Teluk Kimi, Sebelah Selatan Tanah Masyarakat, Sebelah Timur Tanah Masyarakat dan Sebelah Barat   :   Kali Samabusa. Kegiatan Tata Batas telah temu gelang dengan luasan kawasan saat ini menjadi 72,50 hektar pada tahun 1981/1982.

 Flora dan Fauna
Flora dalam kawasan bervariasi mulai dari tanaman tingkat pohon seperti Pometia sp dan Intsia sp sampai tanaman hias seperti jenis-jenis anggrek.
Beberapa jenis satwa di dalam kawasan antara lain Trichoglossus haematodus, Paradiseae sp, Probociger atterimus, Phalanger sp, Lorius domicella, Electus roratus dan sebagainya

 Wisata Alam


Type ekosistem dalam kawasan terdiri dari ekosistem hutan bakau/rawa, ekosistem dataran rendah dan ekosistem hutan pantai. Ekosistem itu menjadi obyek wisata yang sangat menarik di kawasan ini.

TWA. Nabire merupakan kawasan konservasi yang difungsikan sebagai kawasan rekreasi dan wisata alam. TWA. Nabire memiliki pemandangan yang cukup menarik diantaranya pantai pasir putih dan tumbuhan mangrovenya (Rizhopora apiculata). Masyarakat telah secara swadaya mengembangkan potensi wisata yang ada di wilayah tersebut. Wisata yang telah dikembangkan oleh masyarakat diantaranya meliputi wisata pantai dan wisata air panas air mandidi. Masyarakat telah mengupayakan adanya retribusi kepada wisatawan yang berkisar Rp. 1000,- s/d Rp. 2000,- yang dikelola oleh pemilik adat.

Aksesibilitas

Taman Wisata Alam Nabire, dari luar kota Nabire dapat dicapai melalui jalur udara dan laut. Melalui jalur udara dengan pesawat udara mendarat di Bandar Udara Nabire, dan kemudian menggunakan angkutan darat menuju ke pintu masuk kawasan sekitar 45 menit. Melalui jalur laut dengan kapal laut menuju ke pelabuhan Nabire di Samabusa, kemudian dengan perjalanan selama sekitar 15 menit sampai di pintu masuk kawasan. Dari pusat kota Nabire, dengan kendaraan roda empat dan roda dua selama kurang lebih satu jam.

Potensi Sosial Masyarakat

Sesuai dengan fungsinya TWA Nabire diperuntukkan bagi wisata alam yang didalamnya juga dapat digunakan sebagai wahana pendidikan. Kawasan TWA Nabire yang secara administrative terletak di 2 kelurahan yaitu Kelurahan Air Mandidi dan Kimi mempunyai berbagai karakteristik dan permasalahan sendiri. Secara kepemilikan hak ulayat pemilik tanah kebanyakan berdomisili di Kelurahan Samabusa, sehingga masyarakat Air Mandidi dan Kimi tidak mempunyai hak atas kepemilikan tanah.

Kampung Air Mandidi

Kawasan TWA Nabire secara administratif masuk dalam Kampung Air Mandidi sehingga interaksi langsung terjadi antara masyarakat dengan kawasan konservasi tersebut. Jumlah penduduk Kampung Air Mandidi didominasi oleh masyarakat dari Biak, Serui, Paniai dan Enarotali.

Kampung Samabusa

Kampung Samabusa merupakan salah satu kampung yang berada di luar kawasan konservasi TWA Nabire namun memiliki keterikatan dengan Kawasan Konservasi karena sebagian besar pemilik hak ulayat yang berada di kawasan konservasi tinggal di Kampung Samabusa.

Kampung Kimi

Kampung Kimi terletak bersebelahan dengan Kampung Air Mandidi yang secara administrative juga berada di Distrik Teluk Kimi Kabupeten Nabire.

Sosial Budaya

Pada umumnya Suku  Wate yang berada disekitar TWA Nabire masih memelihara sistim kekerabatan dan pola hubungan antar individu dalam masyarakat yang masih sangat erat. Biasanya penduduk yang bertempat tinggal dalm suatu kampung masih memiliki hubungan kekerabatan, secara umum budaya satu kampung dengan kampung lain masih banyak kesamaan. Sistem kekerabatan tersebut yang masih dipegang kuat dan menyolok adalah nama marga merupakan hal yang mendasar. Beberapa marga suku Wate yang mendiami kawasan sekitar TWA Nabire antara lain; Waray, Sayori, Marey, Samsanoy dan Money. Marga yang memiliki keterkaitan langsung dengan kawasan TWA Nabire dan mempunyai hak ulayat atas kawasan TWA Nabire adalah dari marga Waray.

Kebiasaan-kebiasaan lain yang berhubungan dengan upacara-upacara ritual seperti upacara kelahiran, perkawinan, pengukuhan kepala suku atau pelantikan kepala desa dan kematian sudah mulai tidak terlihat secara menyolok. Hal ini disebabkan kampung-kampung sekitarnya sangat berdekatan dengan kota Nabire sehingga pola kehidupan masyarakat kota mulai mengikis nilai-nilai/kebiasaan masyarakat asli yang sebelumnya sering mereka lakukan. Di samping itu masuknya para pendatang baik dari luar Papua seperti; suku Jawa, Buton, Toraja dan Bugis maupun pendatang asal Papua seperti suku Biak, Serui dan Sorong dan Paniai memberikan pengaruh secara tidak langsung terhadap adat istiadat masyarakat setempat. Perkawinan yang terjadi di dalam suku Wate dapat bercorak exogami artinya seorang laki-laki mengambil seorang wanita dari lain suku dan memasukkannya ke dalam suku Wate atau kerabatnya atau seorang laki-laki dari luar suku Wate mengambil seorang wanita dari dalam suku Wate, dan inxogami artinya seorang laki-laki suku Wate mengambil wanita dari suku Wate.

Beberapa bentuk mas kawin yang dikenal sejak dulu oleh Suku Wate adalah :
Kerang-kerangan (bia) yang dalam bahasa setempat disebut mege, yang terdiri dari beberapa jenis tergantung besarnya mege yaitu muto, yao, yodagi, mitaoyatuyaBabi yang banyaknya ditentukan berdasarkan kemampuan pihak laki-laki.

Mengenai warisan erat hubungannya dengan tertib sanak keluargadan bentuk serta macam barang yang diwariskan. Harta warisan dari orang tua yang meninggal diwariskan kepada anak laki-laki. Tetapi bila dalam keluarga tidak terdapat anak laki-laki maka harta warisan tersebut dapat diwariskan kepada anak perempuan. Apabila keluarga tersebut tidak memiliki anak maka warisan jatuh kepada saudara-saudaranya.
Adapun harta warisan dapat berupa manik-namik, kerang-kerangan (mege), tanah adat, busur serta anah panah dan harta pusaka peninggalan nenek moyang

Hak Ulayat

Hak ulayat adalah hak dari persekutuan hukum untuk menggunakan dengan bebas tanah-tanah yang masih berupa hutan belukardi dalam lingkungan wilayahnya, guna persekutuan hukum tersebut dan anggota-anggotanya. Apa bila orang dari luar persekutuan hukum tersebut memanfaatkannya maka harus dengan izin dan melakukan pembayaran pengakuan rekognisi dan secara langsung atau tidak langsung persekutuan tersebut tetap memiliki pengaruh terhadap tanah-tanah yang terletak dalam lingkungan persekutuan hukum tersebut yang telah diusahakan oleh orang dari luar.

Bagi suku Wate tanah tanah merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka sebab tanah merukan tempat tinggal dan sebagai sumber kehidupan yang paling penting dan utama.

Kesenian

Suku Wate sudah sejak lama melakukan kegiatan yang bersifat seni, adapun seni yang berkembang adalah seni tari dan seni ukir.
Seni tari dilakukan pada upacara-upacara tertentu, misalnya pada pesta babi (yowo) yaitu suatu pesta pertemuan antara orang-orang dari suku lain yang datang dari luar daerah. Dalam pesta ini terjadi tukar menukar barang di antara mereka (barter)

Tarian yang terkenal pada Suku Wate yaitu tari yosim yang dapat dilakukan oleh kaum tua dan muda. Juga terdapat tari bitehai yaitu suatu tarian yang menyatakan kemenangan biasanya dilakukan pada perayaan hari-hari kebesaran nasional seperti hari kemerdekaan, hari sumpah pemuda dan lain-lain.

Tarian lain yang juga dikenal dalam masyarakat ini adalah tarian yame yetawa yaitu suatu tarian yang dibawakan pada waktu diadakannya pesta tukar cincin atau pada pesta perkawinan. Dalam pesta ini masyarakat Wate juga menyanyikan lagi tradisional mereka seperti ugaa, komauga, dan gawai. Nyanyian ini dilantunkan berupa pantun-pantun yang memiliki arti dan makna tersendiri.

Seni ukir yang berkembang pada Suku Wate adalah ukiran pada busur dan anak panah, gagang kapak batu, perahu, dan koteka. Selain itu mereka juga membuat alat musik yang terbuat dari bambu yang mirip dengan harmonika. Seni ukir dalam masyarakat suku Wate selain bernilai estetika juga berdaya magis tinggi oleh karena itu tidak semua masyarakat suku Wate dapat melakukan ukiran dengan baik dan benar hanya orang tertentu saja yang dapt melakukannya.

Tempat Sakral dan Pengetahuan Metafisika

Kehidupan antropologis Suku Wate dapat tercermin dari adanya tempat-tempat sakral dan pengetahuan metafisika masyarakat dalam kehidupan mereka.  Di dalam kawasan terdapat beberapa tempat yang memiliki kepentingan spiritual dan dianggap sakral oleh masyarakat tradisional.  Secara historis, tempat-tempat tersebut memiliki kenampakan yang sangat berarti bagi masyarakat tradisional, atau berhubungan dengan cerita/mitos adat/suku, atau kejadian luar biasa dimasa lalu yang tidak dapat diceritakan kembali, atau lokasi khusus tempat asal-usul arwah nenek moyang mereka.  Lokasi tempat sakral tersebut umumnya bersifat rahasia, terlarang (pemali) yang terkadang cukup berbahaya, baik bagi masyarakat tradisional maupun non tradisional.  Tempat-tempat sakral tersebut dapat berupa suatu bidang yang luas dalam suatu dusun, kawasan hutan tertentu, sumber air atau pohon-pohon tertentu.

Suku Wate memiliki mitologi adat yang berakar di daerah Paniai. Mereka percaya bahwa nenek moyang Suku ini berasal dari Danau Paniai yang kemudian mengembara ke wilayah Napan sampai nenek moyang mereka meninggal di daerah ini oleh karena itu Suku Wate mengganggap Napan merupakan wilayah sakralnya.Pengetahuan metafisik masyarakat tradisional merupakan pengetahuan terhadap adanya gejala-gejala alam yang dipergunakan untuk menentukan atau memulai suatu kegiatan, seperti misalnya waktu berburu dan bercocok tanam.

Kegiatan Pengelolaan
  • Kegiatan identifikasi masyarakat adat oleh Balai Besar KSDA Papua Tahun 2008
  • Kegiatan survey kondisi permasalahan oleh Balai Besar KSDA Papua Tahun 2008
  • Kegiatan pengamanan kawasan oleh Bidang KSDA Wilayah II
  • Identifikasi Objek Daya Tarik Wisata Alam oleh Balai Besar KSDA Papua Tahun 2012
 http://bbksdapapua.dephut.go.id/?page_id=54
Salam 
Wisata Papua

Objek Wisata

Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers